JURUSAN RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI
ATRO SINAR AMAL BAKTI MEDAN
a. Kata pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat ALLAH SWT karena, berkat rahmat dan
karunia-
Nya lah makalah yang membahas Oesophagus
dan MDF dapat diselesaikan tepat waktu. Dalam pembutan dan penyusunan makalah
ini banyak kesulitan dan hambatan yang dihadapi, berkat dukungan dan bantuan
yang bersifat moril dan materiil dari berbagai pihak, berdasarkan tugas yang
diberikan oleh dosen kami dalam mata kuliah Teknik Radiografi.
Terima kasih kami ucapkan kepada seluruh
pihak yang telah membantu dalam
menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih
kurang sempurna dan banyak kekurangan,
karena
keterbatasan dalam pengetahuan, pengalaman
serta kemampuan. Untuk
itu kami
memohon kritik dan saran yang bersifat
membangun sehingga makalah ini dapat bermanfaat
khusunya untuk saya sendiri.
TTD:


Disusun Oleh :
ASY’ARI HAFIF
ATRO
SINAR AMAL BAKTI MEDAN
T.A 2015-2016
Daftar
pustaka
1.
Pengertian oesophagus & MDF
2.
Anatomi oesofagus & MDF
3.
Persiapan alat dan bahan
4.
Proyeksi pemeriksaan oesophagus
& MDF
BAB I
Pendahuluan
A.Pendahuluan
T. radiografi
adalah pemeriksaan rongga-rongga tubuh kita dengan menggunakan alat bantu yaitu
pesawat rontgen yg menghasilkan sinar x untuk menembus organ-organ tersebut
sinar x ditemukan pertama kali pada tahun 1895 oleh pakar dari jerman yaitu WILLIEM CHONRAD RONTGEN
B. Tujuan
Untuk mengetahui anatomi dari oesophagus & MDF serta
melihat fungsi-fungsi dan kelainannya
BAB II
Isi
1. Pengertian
A. Oesophagus adalah saluran yang menghubungkan antara tenggorokan
(faring) dengan lambung (gaster). Di antara esofagus dan tenggorokan terdapat
klep yang disebut spinkter esofagus atas, dan antara esofagus dan lambung
terdapat klep yang disebut spinkter esofagus bawah. Klep-klep tersebut berguna
untuk menjaga makanan tidak kembali ke atas atau ke tenggorokan.
B. Maag/ lambung adalah organ pencernaan bagian bawah yang berfungsi
menghaluskan makanan dan terletak di bagian kiri atas rongga abdomen/ left
hipocardiac.
C. Duodenum adalah organ percernaan
bagian bawah yang merupakan bagian/ ujung awal dari usus halus dan merupakan
bagian usus halus yang paling pendek yang berfungsi menyerap sari-sari makanan.
2.
Anatomi
A.
Oesophagus
Oesophagus terletak di belakang trakea, terbentang
dari laringopharynx s/d lambung. Panjangnya 10 inch, diameter ¾ inc.
B.
MDF
Lambung atau gaster
merupakan bagian dari saluran yang dapat mengembang paling banyak terutama didaerah epigaster,lambung terdiri dari bagian atas fundus uteri berhubungan dengan esofagus melalui orifisium pilorik,terletak dibagian dibawahdiafragma
pankreas dan limpa,menempel disebelah fundus uteri.
1.1 Bagian lambung terdiri dari :
1.Fundus ventrikuli:
bagian yang menonjol keatas terletak sebelah kiri osteum kardium dan penuh berisi gas.2.Corpus ventrikuli: setinggi osteum cardium,suatu lekukan pada bagian
bawah kurvaturaminor.3.Antrum pilorus: Bagian lambung berbentuk tabung mempunyai otot yang tebalmembentuk
sfingter pilorus.4.Kurvatura minor: Terdapat
sebelah kanan lambung terbentang dari ostium kardia sampaike pilorus.5.Kurvatura mayor: Lebih panjang dari kurvatura minor terbentang dari sisi osteumkardiakum melalui fundus ventrikuli menuju kekanan sampai ke pilorus inferior.Ligamentum
gastro lienalis terbentang dari bagian atas kurvatura mayor sampai ke limpa.6.Osteum kardiakum: Merupakan tempat dimana esofagus bagian abdomen masuk kelambung.
Pada bagian ini terdapat orifisium pilorik.

3. Persiapan
pemeriksaan oesophagus & MDF yaitu :
1. Persiapan pasien
Persiapan
pasien sebelum pemeriksaan yaitu :
a. Pasien diberi penjelasan tentang pemeriksaan yang akan dilakukan
b. Pasien puasa selama 5 jam sebelum dilakukan pemeriksaan
c. Pasien tidak diperbolehkan mengkonsumsi obat-obatan yang
mengandung substansi radioopaque seperti steroid, pil kontrasepsi
(Bryan, 1979)
2. Persiapan alat dan bahan
Persiapan
alat :
a. Pesawat sinar x
b. Kaset ukuran 24 x 30 cm, 35 x 35 cm
c. Film ukuran 24x 30 cm, 35 x 35 cm
d. Gelas
e. Sendok
f. Tissue
g. Bengkok
h. Baju pasien
i. Marker R atau L
j. Pencucian film terdiri dari developer, fixer, rinsing (Balinger, 1999)
Persiapan
bahan :
a. Media kontras barium sulfat (BaSO4)
Kontras media adalah suatu bahan yang dapat digunakan dalam pemeriksaan
radiologi yang bertujuan untuk memberikan perbedaan densitas organ
disekitarnya. Kontras media dibagi menjadi dua macam yaitu kontras media
positif dan kontras media negatif. Kontras media positif adalah kontras media
yang memiliki nomor atom tinggi, contohnya barium sedangkan kontras media
negatif yaitu kontras media yang memiliki nomor atom rendah, contohnya udara
(Ballinger, 1999).
Pemeriksaan OMD dengan menggunakan media kontras dibagi menjadi 5
macam yaitu :
1. Barium swallow adalah pemeriksaan radiologis oesofagus dengan cara menelan
media kontras
2. Barium meal adalah pemeriksaan radiologis lambung dan duodenum dengan cara
meminum media kontras
3. Barium follow through adalah pemeriksaan radiologis usus halus dengan
meminum media kontras yang merupakan kelanjutan dari pemeriksaan barium meal
yang memerlukan waktu beberapa jam untuk dapat sampai ke proses pencernaan
makanan
b. Cara pemberian media kontras
Kontras positif yang biasanya digunakan dalam pemeriksaan radiologis
saluran pencernaan adalah BaSo4. Bahan ini merupakan sutu garam
berwarna putih, mempunyai berat atom yang besar dan tidak larut dalam air.
Bahan diaduk dengan air dalam perbandingan tertentu, sehingga menjadi suspensi
(bukan larutan). Suspensi tersebut harus diminum oleh pasien dalam pemeriksaan
oesofagus maag duodenum (Kartoleksono, 1999).
Apabila persiapan pasien sudah dianggap baik, maka untuk pemeriksaan
oesofagus, pasien diberi suspensi barium kurang lebih 2-3 sendok makan. Kontras
barium dikulum di dalam mulut setelah itu pasien diinstruksikan untuk menelan.
Pembuatan radiograf dilakukan setelah kurang lebih 1-5 detik setelah barium
diminum. Sedangkan untuk lembung dan duodenum setelah pasien diberi suspensi
barium kurang lebih 200 ml, atau kurang lebih satu gelas kemudian pasien
disuruh berbaring di atas meja pemeriksaan dan diminta untuk memutar badan ke
kiri dan ke kanan sebanyak 2-3 kali (berguling-guling) dengan maksud agar
suspensi barium sulfat dapat melapisi dinding lambung dan duodenum secara
merata, setelah itu segera dilakukan pengambilan radiograf. Radiograf diambil
setelah kurang lebih 3-5 menit post media kontras (Kertoleksono, 1999)
4. Teknik pemeriksaan
oesophagus & MDF
Teknik pemeriksaan
OMD yang pertama kali dilakukan adalah pasien datang ke radiologi kemudian
pasien diminta untuk ganti baju, setelah itu kita mempersiapkan media kontras
yang akan dipakai yaitu membuat campuran antara barium dan air. Pemeriksaan
oesofagus dapat menggunakan 2 perbandingan yaitu dengan perbandingan 1 : 1
posisi pasien dalam keadaan berdiri (Clark K.C, 1973) atau perbandingan 1 : 4
posisi pasien dalam keadaan tiduran (Bontrager, 1991). Pada pemeriksaan maag
duodenum perbandingan campuran yang digunakan adalah 1 : 4 (Bontrager, 1999)
e. Proyeksi pemeriksaan OMD
1. Proyeksi radiografi plain abdomen (AP supine)
Pemeriksaan OMD sebelumnya dilakukan
plain foto terlebih dahulu untuk mengetahui persiapan dari pasien, proyeksi
yang digunakan adalah AP supine.
Posisi
pasien : pasien dalam
posisi supine di atas meja pemeriksaan dengan kedua tangan di samping tubuh.
Posisi
objek : MSP tubuh pada
pertengahan meja pemeriksaan, usahakan tidak terjadi rotasi pada tubuh
Pengaturan
sinar : CR : tegak lurus kaset
CP : V.
lumbal 2
FFD 100 cm
Menggunakan
grid
Kaset ukuran :
35 x 35 cm
Eksposi :
ekspirasi dan tahan napas
Kriteria
evaluasi : tampak abdomen bila bersih maka pemeriksaan dilanjutkan
(Bontrager, 2001).
2. Proyeksi radiografi pemeriksaan oesofagus
Terdapat beberapa proyeksi yang
digunakan pada pemeriksaan oesofagus yaitu :
a. Proyeksi AP atau PA
Proyeksi ini dapat memperlihatkan
kelainan yaitu striktur, benda asing, anomaly anatmi dan neoplasma oesofagus.
Posisi
pasien :
pasien pada posisi terlentang pada meja pemeriksaan atau dalam posisi berdiri
Posisi
objek : MSP
tubuh pada pertengahan meja pemeriksaan. Usahakan tidak terjadi rotasi pada
shoulder dan hip. Batas atas kaset 5 cm di atas shoulder sebagai pusat sinar
pada kaset.
Pengaturan
sinar : CR : tegak
lurus kaset
CP :
thorakal 5-6 yatiu 1 inchi inferior dari sternal angle atau kira-kira 3 inchi
inferior dari jugular notch
FFD :
100 cm atau 183 cm jika pasien berdiri
Menggunakan
grid
Kaset ukuran : 35
x 35 cm
Eksposi : ekspirasi
dan tahan napas
Kriteria
evaluasi :
1. Tampak oesofagus terisi barium
2. Tidak adanya rotasi pada pasien
3. Tampak oesofagus dalam radiograf
4. Tampak oesofagus superposisi dengan vertebra thorakal (Bontrager, 2001).
b. Proyeksi posisi RAO dan LAO
Proyeksi ini dapat memperlihatkan
kelainan yaitu striktur, benda asing, anomaly anatomi dan neoplasma oesofagus.
Posisi pasien :
pasien tidur miring pada salah satu sisi atau dalam posisi berdiri atau tiduran
Posisi
objek : pasien
dari posisi PA dirotasikan sebesar 35o-40odengan sebelah
kanan atau kiri anterior tubuh jauh dari kaset. Tempatkan lengan kiri atau
kanan di samping tubuh elbow kanan ditekuk untuk memegang segelas barium. Knee
sebelah kiriatau kanan ditekuk untuk fiksasi. Pertengahan thorak sejajar pada
kaset. Batas atas kaset 5 cm di atas shoulder sebagai pusat sinar
pada kaset.
Pengaturan
sinar : CR :
tegak lurus kaset
CP :
thorakal 5-6 yaitu 2-3 inchi inferior menuju jugular notch
FFD : 100
cm atau 180 cm jika pasien berdiri
Menggunakan grid
Kaset ukuran :
35 x 35 cm
Eksposi :
ekspirasi tahan napas
Kriteria
evaluasi :
1. Tampak oesofagus diantara kolumna vertebra dan jantung
2. Tampak oesofagus diantara kolumna vertebra dan jantung dengan adanya rotasi
yang cukup dari tubuh pasien
3. Oesofagus terisi barium
4. Otot bawah tidak superposisi dengan oesofagus (Bontrager, 2001)
c. Proyeksi lateral
Proyeksi ini dapat memperlihatkan
kelainan yaitu striktur, benda asing, anomaly anatomi dan neoplasma oesofagus
Posisi pasien :
pasien miring pada salah satu sisi atau dalam posisi berdiri.
Posisi objek :
tempatkan kedua lengan di dekat kepala, elbow ditekuk dan saling superposisi.
Mid coronal plane pada pertengahan meja pemeriksaan. Tempatkan shoulder dan hip
pada posisi true lateral. Batas atas kaset 5 cm di atas shoulder sebagai pusat
sinar pada kaset
Pengaturan
sinar : CR : tegak
lurus kaset
CP : thorakal
5-6 yaitu 2-3 inchi inferior dari jugular notch
FFD :
100 cm atau 180 cm jika pasien berdiri
Menggunakan grid
Kaset ukuran : 35
x 35 cm
Eksposi : ekspirasi
dan tahan napas
Kriteria
evaluasi :
1. Tampak oesofagus diantara kolumna vertebra dan jantung
2. Tampak kosta posterior saling superposisi
3. Tampak kedua lengan tidak superposisi dengan oesofagus
4. oesofagus terisi barium (Bontrager, 2001)
3. Proyeksi radiografi pemeriksaan lambung duodenum
Beberapa proyeksi yang digunakan pada
pemeriksaan lambung duodenum, yaitu :
a. Proyeksi PA
Proyeksi ini dapat memperlihatkan kelainan
yaitu polip, divertikula, bezoar, dan tanda-tanda gastritis dan pylorus dari
lambung.
Posisi pasien :
pasien pada posisi prone, kedua tangan di samping kepala. Kepala diganjal
dengan bantal untuk kenyamanan pasien
Posisi objek : MSP
tubuh pada pertengahan meja pemeriksaan, usahakan tidak terjadi rotasi pada
tubuh
Pengaturan
sinar : CR : tegak
lurus kaset
CP : 1
inchi lateral ke arah lumbal 2
FFD : 100
cm
Menggunakan
grid
Kaset ukuran : 24
x 30 cm
Eksposi : ekspirasi
dan tahan napas
Kriteria
evaluasi :
1. Tampak lambung dan duodenum
2. Badan dan pylorus dari lambung berisi barium
3. Struktur lambung tampak dalam radiograf (Bontrager, 2001)
b. Proyeksi RAO
Proyeksi ini dapat memperlihatkan polip
dan ulkus dari pylorus, duodenal bulb dan C-loop duodenum
Posisi pasien : pasien
tidur miring pada salah satu sisi kemudian dirotasikan ke arah RAO. Ganjal
kepala pasien dengan bantal untuk kenyamanan pasien
Posisi objek : pasien
dirotasikan sebesar 400-700 dari posisi prone dengan
sebelah kanan anterior tubuh jauh dari kaset. Lengan kanan di bawah dan elbow
kiri ditekuk dekat kepala pasien. Knee ditekuk untuk fiksasi
Pengaturan
sinar : CR : tegak
lurus kaset
CP : lumbal
2 yaitu 1-2 inchi di atas batas lateral costae bawah
FFD :
100 cm
Menggunakan
grid
Kaset
ukuran : 24 x 30 cm
Eksposi :
ekspirasi dan tahan napas
Kriteria
evaluasi :
1. Tampak lambung dan duodenum dalam radiograf
2. Tampak bulbus duodenum
3. Tampak lipatan lambung (Bontrager, 2001)
c. Proyeksi LPO
Dengan menggunakan double kontras udara
mengisi pylorus dan duodenal bulb, kemungkinan dapat memperlihatkan kelainan
gastritis dan ulkus.
Posisi pasien : pasien
miring pada salah satu sisi kemudian tubuh dirotasikan ke arah LPO, ganjal
kepala dengan bantal untuk kenyamanan pasien
Posisi objek : pasien
dari posisi supine dirotasikan sebesar 300-600 dengan
sebelah posterior jauh dari kaset. Knee sebelah kanan ditekuk untuk fiksasi.
Kedua tangan diletakkan menyilang di depan dada untuk imobilisasi.
Pengaturan
sinar : CR : tegak
lurus kaset
CP : kira-kira
di antara xipoid tip dan batas lateral costae bawah setinggi lumbal
1
FFD :
100 cm
Menggunakan
grid
Kaset ukuran :
24 x 30 cm
Kriteria
evaluasi :
1. Tampak lambung dan duodenum
2. Tidak ada obstruksi antara bulbus duodenum ditunjukkan dengan tidak adanya
superposisi pylorus pada lambung.
3. Fundus terisi oleh barium (Bontrager, 2001)
d. Proyeksi lateral kanan
Proyeksi ini dapat memperlihatkan ruang
retrogastrik (ruang di belakang lambung) divertikula, tumor, ulkus gastric, dan
trauma lambung
Posisi pasien :
pasien tidur miring ke arah lateral kanan. Letakkan kedua tangan di dekat
kepala. Ganjal kepala dengan bantal untuk kenyamanan pasien
Posisi objek :
shoulder dan hip pada posisi true lateral dan batas bawah kaset pada iliac
crest
Pengaturan
sinar : CR : tegak
lurus kaset
CP :
lumbal 1 yaitu pada batas lateral costae bawah dan 1-1,5 inchi anterior menuju
mid coronal plane
FFD :
100 cm
Kaset ukuran : 24
x 30 cm
Kriteria evaluasi :
1. Tampak lambung dan duodenum
2. Tampak retrogastric space
3. Tampak pylorus dan duodenum dalam radiograf
4. Tampak bulbus duodenal (Bontrager, 2001)
e. Posisi AP
Proyeksi ini digunakan untuk mengetahui
kemungkinan adanya hiatal hernia ditunjukan dengan posisi trendelenburg.
Posisi pasien :
pasien pada posisi supine, kedua tangan di samping tubuh, ganjal kepala pasien
dengan bantal untuk kenyamanan pasien
Posisi objek : MSP
tubuh pada pertengahan meja pemeriksaan. Usahakan tidak terjadi rotasi pada
tubuh. Kaset harus ditempatkan kira-kira pada iliac crest
Pengaturan
sinar : CR : tegak
lurus kaset
CP : diantara
xipoid tip dan batas bawah costae setinggi lumbal 1
FFD : 100cm
Menggunakan
grid
Kaset ukuran : 30
x 40 cm
Eksposi : ekspirasi
dan tahan napas
Kriteria
evaluasi :
1. Tampak lambung dan duodenum
2. Diafragma dan daerah paru-paru bawah menunjukkan kemungkinan adanya hiatal
hernia
3. Fundus pada lambung terisi oleh barium
4.
Tampak bulbus duodenal (Bontrager, 2001)
